Hipper Competition Among Multifinances in Bali

Last Update: 2017-10-14    46 views
Saat ini bisnis di industri pembiayaan kendaraan (multifinance) masih prospektif tapi persaingan makin kompetitif. Persaingan tidak hanya dengan sesama multifinance, tapi juga dengan bank, bank perkreditan rakyat (BPR), koperasi, bahkan dengan pemerintah yang menyalurkan kredit usaha rakyat (KUR). Hal ini disebabkan oleh faktor perkembangan ekonomi yang sangat mempengaruhi kinerja industri pembiayaan di Indonesia. Begitu juga ancaman dari eksternal seperti potensi kenaikan suku bunga pinjaman.
 
Sengitnya persaingan pada industri kredit ini memberikan beberapa dampak, antara lain : 1.) Persaingan Bunga Cenderung Turun, 2.) Proses Cepat, 3.) Down Payment Murah, 4.) Cash Lebih Mahal Daripada Credit, 4.) Biaya Terselubung, 5.) Insentif Jor-joran 6.) Lapangan Pekerjaan Meningkat, 7.) Jalanan Macet, 8.) Credit bermasalah meningkat (Prof/Debt Coll).
 
Untuk menumbuhkan produktifitas industri multifinance, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendukung perusahaan pembiayaan agar dapat meningkatkan kreativitasnya dalam menawarkan produk pembiayaan. Dukungan ditunjukkan dengan diterbitkannya peraturan OJK No 29 tahun 2014 yang memberikan perluasan cakupan perusahaan pembiayaan, sehingga tidak hanya berfokus kepada pembiayaan kendaraan bermotor dan elektronik saja. Tapi juga bisa memberikan pembiayaan untuk kebutuhan jasa, modal kerja, dan infrastruktur.
 
Di era globalisasi dan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) serta era disruption, perusahaan pembiayaan (Multifinance) dituntut harus jeli dan lebih inovatif dalam melihat peluang di sektor produktif.
 
Uraian diatas dipaparkan pada mata kuliah General Business Environment (GBE) dengan topik “Hipper Competition Among Multifinances in Bali” yang diisi oleh Seorang Area Manager PT. Clipan Finance Indonesia, I Nyoman Suastika, SE., MM.
 
Salam Global . Smart . Digital
 
 
Copyright © 2010 pasca-undiknas.ac.id | Designed by Team Cybernet Pascasarjana Undiknas | All Rights Reserved